Selasa, 05 Januari 2016

Bahasa Tubuh Manusia

BAHASA TUBUH 







Apakah anda melihat ke bawah ketika berbicara? Bermain-main dengan rambut anda? Condong ke satu sisi? Setiap gerak isyarat memiliki arti. Apa yang anda katakan kepada orang lain tak hanya direfleksikan melalui kata-kata yang keluar dari mulut anda, tapi juga melalui gerak isyarat serta gerakan yang anda lakukan dengan tubuh anda.

Kristin Appenbrink editor RealSimple.com mengungkap apa yang bahasa tubuh anda katakan mengenai diri anda, seperti yang dikutip dari CBS News (02/12/10).

Berdiri dengan kedua kaki merapat dianggap lebih merupakan cara berdiri yang konservatif. Hal tersebut mirip dengan seorang tentara yang berhadapan dengan perwiranya. Cara berdiri seperti ini biasanya menunjukkan rasa hormat.

Jika anda berdiri dengan kedua kaki terpisah sejajar bahu, anda memberikan sinyal kekuasaan dan kebulatan tekad. Untuk lebih meyakinkan lagi anda bisa menempatkan kedua tangan anda di pinggul. Ini merupakan posisi biasanya untuk kekuasaan dan seringkali digunakan ketika menegaskan sisi anda dalam sebuah perdebatan atau diskusi.

Cara anda menggerakkan tubuh anda merefleksikan sikap anda. Memindahkan berat tubuh anda dari kiri dan ke kanan atau dari depan ke belakang mengindikasikan bahwa anda gugup atau merasa kecewa. Pada dasarnya, ini merupakan representasi fisik terhadap apa yang sedang terjadi dalam kepala anda yaitu anda berada di antara banyak pikiran-pikiran yang mengganggu dan tak dapat berhenti bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.

Menyilangkan tangan serta kaki anda merupakan posisi defensif. Perhatikan di sekitar anda. Biasanya ini hanya berarti seseorang itu dingin. Banyak orang juga merasakan bahwa posisi ini nyaman.

Jari-jari kaki yang saling menunjuk ke arah dalam mengindikasikan bahwa anda sedang menutup diri karena anda merasa canggung atau gelisah. Namun, jika anda duduk tegap dengan bahu anda sejajar dan kepala anda tegak ke atas yang merupakan tanda-tanda posisi tubuh terbuka, kaki anda mungkin memberitahukan yang sebenarnya.

Membuka tangan anda dengan cara melebarkan tangan anda seperti sedang menolong mengambil baki dari tangan seseorang berarti anda terbuka dengan gagasan-gagasan baru yang ditawarkan. Mengarahkan telapak tangan anda ke bawah atau mengepalkan tangan anda menunjukkan bahwa anda memiliki posisi yang kuat yang mungkin tidak begitu fleksibel.

Menyembunyikan tangan anda di pangkuan, di dalam saku atau di belakang merupakan gerakan-gerakan menipu yang seringkali berarti anda sedang menyembunyikan sesuatu.

Menggigit kuku atau mencungkil-cungkil kulit ari merupakan tanda percaya diri yang rendah serta pemalu. Cobalah melipat kedua tangan anda menjadi satu dengan kedua jari telunjuk dikeluarkan agar supaya anda tidak mengorek-ngorek kuku anda. Anda nantinya akan nampak percaya diri.


Sumber :
http://sainspop.blogspot.co.id/2010/12/bahasa-tubuh.html
http://www.cbsnews.com 


Tugas Bahasa Indonesia 2 (Salah Nalar)

SALAH NALAR














Nama Dosen : Drs. Budi Santoso, MM

Penyusun :
Anisah Zahrina Mawaddah (21213085)






FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2016












KATA PENGANTAR


Puji syukur atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia dengan judul “Salah Nalar” ini. Tugas ini dibuat berisi tentang penjelasan salah nalar.

Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan besar harapan saya agar tulisan ini dapat berguna dan memberikat manfaat yang positif bagi saya pribadi dan kepada para pembaca tulisan ini.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Saran dan kritik begitu saya harapkan agar dapat memperbaiki tulisan saya dimasa mendatang








Bekasi, Januari 2016


(Penyusun)








DAFTAR ISI


Cover ......................................................................................................................... 
Kata pengantar .......................................................................................................... 
Daftar Isi ...................................................................................................................
BAB I : Pendahuluan ................................................................................................
1.1  Latar Belakang ............................................................................  
1.2  Rumusan Masalah .......................................................................
1.3  Tujuan .........................................................................................
BAB II : Pembahasan ...............................................................................................
-          Definisi Salah Nalar .........................................................................
-          Macam Macam Salah Nalar .............................................................
-          Cara Mengatasi atau Menghindari Salah Nalar ................................
BAB III Kesimpulan ..................................................................................................

Daftar Pustaka...........................................................................................................





          BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang


 Berpikir adalah obyek material logika. Yang dimaksudkan dengan berpikir di sini ialah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berpikir manusia mengolah, mengerjakan pengetahuan yang telah diperoleh. Dengan mengolah dan mengerjakan ia dapat memperoleh kebenaran. Pengolahan, pengerjaan ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lain. Oleh karena itu, obyek material logika bukanlah bahan-bahan kimia atau salah satu bahasa.

Akan tetapi, bukan sembarangan berpikir yang diselelidiki dalam logika, melainkan dalam logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan, ketepatan. Oleh karena itu, berpikir lurus, tepat, merupakan obyek formal logika. Kapan suatu pemikiran disebut lurus? Suatu pemikiran disebut lurus, tepat, apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan dalam logika. Kalau peraturan-peraturan itu ditepati, dapatlah pelbagai kesalahan atau kesesatan dihindarkan. Jadi, kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan lebih aman. Semua ini menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
Atas dasar itu, gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya.




1.2  Rumusan Masalah

-          Apa yang dimaksud dengan salah nalar?
-          Apa saja jenis-jenis salah nalar?
-          Bagaimana cara mengatasi ataupun menghindari terjadinya salah nalar?



1.3  Tujuan


Makalah ini disusun bertujuan untuk menambah ilmu dan pengetahuan mengenai masalah yang diangkat dalam makalah, serta menambah wawasan supaya meminimalkan kesalahan penalaran dalam berkomunikasi. Selain itu, makalah ini dibuat guna memenuhi tugas Bahasa Indonesia ke 2.



BAB II

PEMBAHASAN


Salah Nalar

Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia  untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada  sehingga  sampai  pada  suatu simpulan, juga bisa merupakan Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat.

Salah nalar dapat terjadi di dalam proses berpikir untuk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan.
Dalam proses berpikir sering sekali kita keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan, kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, kecerobohan, atau ketidaktahuan.



Macam-macam Salah Nalar

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya, oleh karena itu dalam berkomunikasi perlu kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat. Sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan.
Ada beberapa macam salah nalar, yakni sebagai berikut :
a.    Deduksi yang salah
     Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan.
     Contoh dari Deduksi yang salah :
-          Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas.

b.   Generalisasi Terlalu Luas
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukunggeneralisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi salah.
Contoh Generalisasi Terlalu Luas :
-          Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
-          Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.

c.    Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.
Contoh Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif :
-          Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.
-          Petani harus bersekolah supaya terampil.

d.   Penyebab yang Salah Nalar
Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
Contoh Penyebab yang Salah Nalar :
-         Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

e.    Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Contoh Analogi yang Salah
-         Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.

f.     Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Contoh Argumentasi Bidik Orang :
-         Deliana tidak bias menikah lagi karena ia sudah janda.

g.    Meniru-niru yang Sudah Ada
Salah nalar jenis ini berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau orang lain melakukan hal itu.
Contoh Meniru-niru yang Sudah Ada :
-        Saat Ujian Akhir Semester mata kuliah Bahasa Indonesia Slamet mencotek, karena pada mata kuliah Statistik Fitriawati juga mencontek.  

h.   Penyamarataan Para Ahli
Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan kekeliruan mengambil kesimpulan.
Contoh Penyamarataan Para Ahli :
-         Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia adalah Diska, Sarjanah Ekonomi.


Cara Mengatasi atau Menghindari Salah Nalar

Ada beberapa cara untuk mengatasi atau menghindari salah nalar. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut :
         a.       Dapat berkomunikasi dengan baik
         b.      Harus mengetahui teori dasar dalam berpikir
         c.       Jangan menyimpulkan premis dengan cepat
         d.      Memikirkan perkataan atau kalimat sebelum diucapkan
         e.       Memilih kata dengan baik
         f.       Menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar
         g.      Sering membaca buku agar memiliki wawasan yang luas
    h. Tidak cepat menafsirkan atau menarik kesimpulan sebelum dikaji terlebih dahulu kebenarannya







BAB III
KESIMPULAN

Dengan kemajuan zaman era globalisasi kita dituntut untuk lebih cermat dan selalu efisien dalam menghadapi tantangan suatu problematika kehidupan, kecermatan salah satunya dapat kita peroleh pada komunikasi yang baik.
Untuk itu dalam berkomunikasi kita hendaklah menggunakan kata-kata atau kalimat yang mudah di mengerti oleh orang lain, sehingga tidak mengalami kesalahan nalar dalam berkomunikasi.



Daftar Pustaka

























Senin, 09 November 2015

RESENSI NOVEL

Judul                : Ibuku (Tidak) Gila
Penulis             : Anggie D Widowati
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : 2014
Tebal               : 310 Halaman

Seorang ibu memiliki ikatan batin yang abstrak dengan putra putrinya, walaupun ada pisau yang menyakitkan mengiris ikatan tersebut, tetapi ikatan itu tidak akan pernah putus, selamanya. Hal inilah yang coba disampaikan oleh Anggie melalui novelnya kali ini. Kisah dimulai ketika Dewa, mengetahui bahwa ibu biologisnya selama ini dirawat di rumah sakit jiwa. Hal ini membuat Dewa bertanya – tanya apa yang membuat sang ayah merahasiakan hal ini darinya selama bertahun – tahun dan alasan ibunya dirawat dirumah sakit jiwa. Kenapa ayah nya tega menaruh ibu dirumah sakit jiwa sendirian, kenapa ayah menikah lagi dan bertindak seolah – olah selama ini tidak ada apa – apa pada dirinya ? apakah ayah tidak mencintai ibu lagi ? apa ayah dan ibu tiriku berselingkuh hingga menjadi  penyebab ibu gila ? semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran Dewa dan meyebabkan dirinya tidak bisa fokus kepada kuliahnya. Nilai ujiannya hancur dan hubungan yang telah ia bina bersama pacarnya pun terpaksa harus putus ditengah jalan, keretakan hubungan keluarga antara Dewa, ayah dan mama tirinya pun tidak terhindari. Anehnya, ibunya tidak mengenali dirinya dan selalu histeris juga bertindak kasar tiap kali melihat dirinya. Dewa pun meminta bantuan seorang mahasiswi psikologi bernama Ara untuk membantu dirinya menyusuri dan mengungkap perjalanan hidup ibunya dahulu, juga membantu dirinya memecahkan mimpi – mimpi yang sering dirinya alami, mulai dari gadis kecil yang selalu memanggil namanya didalam mimpi hingga sepatu merah dan bunga kertas ungu. Dewa yakin mimpinya ini merupakan kunci baginya untuk tahu apa yang terjadi dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan ayahnya. Setelah menguak dan menelusuri masa lalu ibunya, Dewa menemukan kenyataan bahwa semua hal ini justru bermuara dari dirinya. Dewa akhirnya mendapatkan bukti bahwa sebenarnya ia memiliki adik kandung perempuan, gadis yang selalu muncul dalam mimpinya. Sekaligus mendapat kenyataan pahit bahwa sebenarnya dirinya lah yang menyebabkan kematian adiknya yang berujung kepada kegilaan sang ibu yang memiliki masa kecil kelam bersama kedua orangtuanya. Tema yang diangkat dalam novel ini adalah mengenai gangguan psikologis yang dibumbui kisah hubungan keluarga dan juga kisah cinta. Tokoh utama dalam novel ini adalah Dewa, sedangkan tokoh kedua adalah Ara mahasiswa psikologi dan ketiga adalah ibu Dewa yang mengalami gangguan mental. Penokohannya pun menarik, dimulai dari Dewa seorang mahasiswa jurusan ekonomi yang memiliki rasa curiga yang tinggi terutama mengenai penyebab kejiwaan sang ibu dan selalu memiliki keyakinan bahwa ibunya waras, serta keras kepala. Sedangkan Ara adalah mahasiswi psikologi yang berparas cantik, memakai kacamata dan juga cerdas. Sang ibu memiliki penokohan sebagai seorang wanita paruh baya yang memiliki gangguan kejiwaan dan selalu berpenampilan berantakan. Ayah adalah seorang pejabat negeri yang berwibawa, tegas namun juga lembut dan penyayang. Novel ini mengambil latar belakang di rumah sakit jiwa, kediaman Dewa di Solo dan kampung halaman sang ibu di Jogja dimana ia menguak semua rahasia kelam masa kecil ibunya. Waktu dalam cerita ini adalah pagi, siang dan malam dengan suasana cerita yang cenderung sedih, marah dan kecewa. Cerita memiliki alur maju mundur, ditandai dengan adanya flashback masa lalu dan kejadian yang sedang terjadi sekarang. Amanat serta nilai moral yang terkandung didalamnya yaitu kita harus menyayangi lah ibu kita apapun keadaannya, karena bagaimanapun kita adalah anak nya yang telah dikandung susah payah selama 9 bulan dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa.Juga jangan mudah menyerah dan selalu bersyukur. Novel ini memiliki kelebihan yaitu cerita yang disuguhkan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, penjelasan masalah psikologis pun diberikan lengkap sehingga pembaca mudah memahami mengingat genre yang diangkat cukup berat. Cerita yang dituturkan pun dapat membawa pembaca merasa terlibat langsung dalam emosi – emosi yang disampaikan oleh tiap tokohnya. Sedangkan kekurangan novel ini adalah akhir ceritanya yang menggantung dan belum ada kejelasan keadaan selanjutnya mengenai sang ibu, dan malah fokus dengan kisah cinta antara Dewa dan Ara.



Sumber : http://www.kompasiana.com/www.bellasetiawati.com/resensi-ibuku-tidak-gila-ketika-drama-bertemu-psikologi_54f35c527455137d2b6c71fb

Penalaran Deduktif

PENALARAN DEDUKTIF

ANALISA PEMBAHASAN










Nama Dosen : Drs. Budi Santoso, MM

Penyusun :
Anisah Zahrina Mawaddah (21213085)




FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015








KATA PENGANTAR


Puji syukur atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia dengan judul “Penalaran Deduktif” ini. Tugas ini dibuat berisi tentang pengertian dan jenis-jenis kalimat deduktif.

Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan besar harapan saya agar tulisan ini dapat berguna dan memberikat manfaat yang positif bagi saya pribadi dan kepada para pembaca tulisan ini.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Saran dan kritik begitu saya harapkan agar dapat memperbaiki tulisan saya dimasa mendatang.




                                    Bekasi, November 2015


(Penyusun)






DAFTAR ISI

Cover ......................................................................................................................................... I
Kata pengantar .......................................................................................................................... II
Daftar Isi ................................................................................................................................... III
BAB I : Pendahuluan ................................................................................................................ 4
1.1  Latar Belakang ...........................................................................................  4
1.2  Rumusan Masalah ....................................................................................... 4
1.3  Tujuan ......................................................................................................... 4
BAB II : Pembahasan ............................................................................................................... 5
-          Penalaran Deduktif ........................................................................................... 5
-          Bentuk-bentuk Penalaran Deduktif .................................................................. 6
-          Silogisme Kategorial ........................................................................................ 7
-          Silogisme Hipotesis .......................................................................................... 8
-          Silogisme Disjungtif ......................................................................................... 10
-          Entimen ............................................................................................................ 10
BAB III Penutup ....................................................................................................................... 11
Daftar Pustaka ........................................................................................................................... 12
           






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penalaran merupakan hal yang kita sering gunakan sehari hari di dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang terdekat baik keluarga maupun kerabat di tempat kuliah atau di kantor. Namun penulis akan menjelaskan pembahasan kali ini tentang penalaran yang penggunaanya kita gunakan di dalam bahasa kita sehari hari yaitu Bahasa Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah

a.       Apakah yang dimaksud dengan Penalaran Deduktif ?
b.      Apa saja jenis-jenis Penalaran Deduktif ?
c.       Apa yang dimaksud Silogisme ?
d.      Apa yang dimaksud Entimen ?

1.3  Tujuan

Tujuan penulisan ini sadalah untuk peningkatan mutu dalam penggunaan Bahasa Indonesia dalam menguasai kemampuan berfikir, bersifat rasional dan dinamis berpandangan untuk menganalisa konsep penalaran induktif.









BAB II

PEMBAHASAN


Penalaran Deduktif

Dalam berbahasa sehari-hari ataupun secara formal, dalam bentuk tulisan maupun lisan, pernalaran yang tepat perlu digunakan. Khususnya dalam penulisan, kita harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya supaya bisa menarik kesimpulan yang tepat. Namun pada kesempatan ini saya hanya akan membahas Penalaran Deduktif.
Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
            Contoh :
-          Premis 1          =          Semua makhluk adalah ciptaan Tuhan (U)
-          Premis 2          =          Manusia adalah makhluk hidup (U)
-          Premis 3          =          Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan (K)
Dapat dilihat dari contoh diatas bahwa deduksi ialah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus. Bentuk standar dari penalaran deduktif adalah silogisme, yaitu proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi). Artinya apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan tersebut.
Jadi sebenarnya proses deduksi ini tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan kesimpulan yang konsisten berdasarkan pernyataan dasarnya.

Bentuk-bentuk Penalaran Deduktif
            Menurut bentuknya, Penalaran Deduktif dibagi menjadi dua yaitu :
1.      Silogisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, silogisme adalah bentuk, cara berpikir atau menarik simpulan yang terdiri atas premis umum, premis khusus, dan simpulan. Silogisme merupakan suatu cara pernalaran yang formal. Namun, bentuk pernalaran ini jarang dilakukan dalam komunikasi sehari-hari. Yang sering dijumpai hanyalah pemakaian polanya, meskipun secara tidak sadar.
Silogisme terdiri dari :
-          Silogisme Kategorial
-          Silogisme Hipotesis
-          Silogisme Disjungtif
Sebelum mengulas satu per satu bentuk, perlu diketahui beberapa istilah berikut:

-          Proposisi : kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah.
-          Term : adalah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek (S) atau predikat (P).
-          Term minor : adalah subjek pada simpulan.
-     Term menengah : menghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat pada simpulan.

Silogismen Kategorial
            Adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).

Adapun menurut KBBI simpulan berdasarkan silogisme kategorial adalah keputusan yg sama sekali tanpa berdasarkan syarat.
Contoh:
Premis mayor =          Semua makhluk hidup membutuhkanoksigen.
                                                (Middle term)       (Predikat)
Premis minor   =          Manusia adalah makhluk hidup.
                                      (Subjek)             (Middle term)
Simpulan         =          Manusia membutuhkan oksigen.
                                      (Subjek)  (Predikat)  
Hukum-hukum Silogisme
a. Prinsip-prinsip Silogisme kategoris mengenai term:
1. Jumlah term tidak boleh kurang atau lebih dari tiga
1.      Term menengah tidak boleh terdapat dalam kesimpulan
2.      Term subyek dan term predikat dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas daripada dalam premis.
3.      Luas term menengah sekurang-kurangnya satu kali universal.

b. Prinsip-prinsip silogisme kategoris mengenai proposisi:
1.      Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan harus afirmatif juga.
2.      Kedua premis tidak boleh sama-sama negatif.
3.      Jika salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga (mengikuti proposisi yang paling lemah)
4.      Salah satu premis harus universal, tidak boleh keduanya pertikular.


Silogisme Hipotesis

            Adalah silogisme argumen yang premis mayornya berupa posisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik.
Adapun menurut KBBI silogisme hipotesis merupakan penarikan simpulan atau keputusan yang kebenerannya berdasarkan syarat tertentu.
Macam-macam tipe silogisme hipotesis:
1.  Premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh:
Jika hujan, saya naik becak.
Sekarang hujan.
Jadi saya naik becak.

2. Premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
Bila hujan, bumi akan basah.
Sekarang bumi telah basah.
Jadi hujan telah turun.

3.  Premis minornya mengingkari antecedent.
Contoh:
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

4. Premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
Contoh:
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah
Pihak penguasa tidak gelisah.
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.

Silogisme Disjungtif

Adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disjungtif sedangkan premis minornya kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.
Adapun menurut KBBI silogisme disjungtif ini merupakan penarikan simpulan atau keputusan berdasarkan beberapa kemungkinan kebenaran pernyataan, tetapi hanya salah satu pernyataan yg benar.
Silogisme ini terdiri dari dua macam: silogisme disjungtif dalam arti sempit dan silogisme disjungtif dalam arti luas.

Silogisme disjungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Contoh:
la lulus atau tidak lulus.
Ternyata ia lulus.
la bukan tidak lulus.

Silogisme disjungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.
Contoh:
Hasan berada di rumah atau di pasar.
Ternyata tidak di rumah.
Jadi Hasan berada di pasar.

Silogisme disjungtif dalam arti sempit maupun arti luas mempunyai dua tipe yaitu:
-          Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalah mengakui alternatif yang lain.
Contoh:
Ia berada di luar atau di dalam.
Ternyata tidak berada di luar.
Jadi ia berada di dalam.

Ia berada di luar atau di dalam.
Ternyata tidak berada di dalam.
Jadi ia berada di luar.

-          Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.
Contoh:
Budi di masjid atau di sekolah.
la berada di masjid.
Jadi ia tidak berada di sekolah.

Hukum-hukum Silogisme Disjungtif:
- Silogisme disjungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.
-  Silogisme disjungtif dalam arti luas.
a. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar).
b. Bila premis minor mengingkari salah satu alterna konklusinya tidak sah (salah).

2.      Entimen

Praktek nyata berbahasa dengan pola silogisme memang jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik tulisan maupun lisan. Namun entimen (yang pada dasarnya adalah pola silogisme) sering dijumpai pemakaiannya. Di dalam entimen salah satu premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Contoh:
Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.

Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi 2 bagian:
-          Menipu adalah dosa. >> Kesimpulan
-          Karena (menipu) merugikan orang lain. >> Premis Minor, karena bersifat khusus.

Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk melengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknva "menipu". Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis mayornya: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa.

Untuk mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula kita cari dulu simpulannya. Kata-kata yang menandakan simpulan ialah kata-kata seperti: jadi, maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan apa premis yang dihilangkan.





BAB III
PENUTUP


Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul tulisan ini.

Saya banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi sempurnanya tulisan ini dan penulisan lainnya di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga tulisan ini berguna bagi para pembaca yang budiman pada umumnya.




DAFTAR PUSTAKA

http://rarapsp.blogspot.co.id/2013/10/penalaran-deduktif-silogisme-entimen.html
http://nopi-dayat.blogspot.co.id/2010/03/penalaran-deduktif.html